RPP Maharah Qiraah

Peralatan Lengkap Sebelum Melahirkan

  Persiapan kedatangan dedek bayi nih bund: Popok 1 lusin Bedong 1 lusin Baju Celana Sarung tangan Kaus kaki Perlak Kelambu Anger Gurita Alat mandi: 1 Sabun😊 2. Sisir 4. Tempat mandi

Peran Orang Tua dalam Membentuk Generasi Qur'ani

Berikut adalah kisah seorang Ibu yang berusaha mendidik anaknya untuk menjadi generasi Qur'ani.

"Setelah menikah, saya dan suami sangat menunggu kehadirannya di dunia ini. Ilmu tentang orangtua kami siapkan sebelum dia lahir. Suami tempat saya banyak belajar agama. 

Komunikasi kami sebagai orangtua dimulai semenjak Khalid hadir dalam rahim saya. Termasuk membacakannya ayat Al Qur'an. Speaker yang melantunkan ayat al Qur'an non stop di rumah kami. Ketika Khalid sudah lahir kebiasaan itu terus berlanjut.

Di usianya satu tahun, ketika dia sudah bisa mengucapkan kata demi kata, di situ lah kami mulai mengajaknya untuk menghafal al Qur'an. Di saat bermain, saya selalu menyelipkan untuk membacakan beberapa ayat, dan saya ulangi ayat yang sama beberapa hari. Saya tidak menyuruh Khalid untuk mengulanginya, tapi perlahan dia akan mengulang sendiri apa yang sudah saya bacakan. Setelah itu, Khalid muraja'ah setiap naik kendaraan. Diatas kendaraan itulah saya bisa menilai tuntasnya hafalan Khalid. 

Yang harus kami sadari sebagai orangtua adalah kesabaran. Kami sadari yang kami hadapi adalah anak kecil yang butuh kasih sayang dan butuh bermain. Jadi kami sadari tidak boleh memaksanya agar ini tidak menjadi hal yang membosankan baginya.

Ketika Khalid sudah hafal suatu ayat, dan ia mendengar dari imam yang sedang shalat di masjid, dia sangat bangga mengikuti bacaan imam tersebut. Dan siapapun itu yang terdengar baginya, dan dia sudah hafal,terlihat kegembiraan terpancar dari wajahnya. Dan ketika suatu ayat dia dengar, tetapi belum pernah saya bacakan, maka dia akan bertanya, "surah apa itu mah?". Bagi kami ini nikmat yang Allah berikan kepada kami. Semoga Allah Istiqomahkan hati kami.

Sebelum menjalankan peran sebagai orangtua, ada beberapa kesepakatan yang harus menjadi komitmen. 

Pertama, kami tidak memakai televisi di rumah. Walau tanpa televisi, rumah kami tidak sepi. Bahkan di rumah kami terasa ramai karena kami ikut bermain dengan Khalid.

Kedua, tidak memberikan handphone dan sejenisnya. Alasan ini tidak butuh pertimbangan bagi kami. Melihat banyaknya orangtua yang menyesal dan mengeluh setelah memberikan handphone kepada anaknya. Tidak hanya handphone, segala jenis yang serupa dengannya juga tidak kami berikan di kala usianya yang masih sangat dini. Sekalipun benda itu berisikan pendidikan. 

Ketiga, rumah dekat dengan masjid. Di saat kami masih sering berhijrah kemana-mana(penghuni kontrakan,hihi. Mohon do'a pembaca supaya kami tidak mengontrak lagi.). Kami memilih tempat tinggal yang dekat dengan masjid agar anak kami mencintai masjid. 

Keempat, orangtua adalah guru pertama bagi anak. Jadi kami bertanggung jawab penuh atas segala ilmu yang diterima Khalid. Jika kami menginginkan kebaikan untuknya, maka kami wajib memberinya yang baik-baik saja. Dan jika nanti dia sekolah, gurunya tidak kesusahan lagi untuk mendidiknya. Karena saya dan suami bertitel sebagai guru, jadi kami belajar dari sana. Banyaknya zaman sekarang orangtua yang lepas tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya, dan memberikan tanggung jawab penuh kepada guru. Bagi kami, kuncinya memang pendidikan pertama anak adalah orangtua. 

Tulisan saya ini tujuannya bukanlah untuk menginspirasi orang lain dan juga tidak untuk menyinggung orang lain. Karena kami adalah orangtua baru, kami sangat faqir ilmu tentang dunia parenting. semoga keturunan kami selanjutnya jauh lebih baik dari apa yang sudah kami praktikkan hari ini."

Semoga kisah diatas bisa menjadi inspirasi kita dalam mendidik anak pada zaman sekarang ini.

google.com, pub-2089073508243652, DIRECT, f08c47fec0942fa0 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terbukti, bisa menghasilkan uang walau di Rumah Aja

Nasehat untuk sahabat