RPP Maharah Qiraah
Kisah Buruk Seorang Ibu
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Belajar dari kejadian 15 Juni 2024
Dua hari sebelum hari raya idhul adha. Selepas dari kampus kami langsung menuju kampung halaman. Saya dan Khalid akan shalat hari raya di kampung, sedangkan ayahnya shalat hari raya di Lintau sebagai Khatib.
Kami berangkat sebelum zhuhur. Sebenarnya saya mau santai saja dalam menikmati perjalanan. Tapi, Khalid sudah tidak tahan untuk cepat sampai di kampung karna ingin berjumpa dengan adiknya Nusaibah. Bahkan dari pagi dia belum makan, karna maunya makan di tempat Nusaibah. Karna hal itu, sebelum zhuhur kami izin dari kampus untuk pulang terlebih dahulu.
Dari ombilin, ayahnya mengantuk dan saya gantikan membawa motor. Kami sangat menikmati perjalanan.
Selepas dari danau singkarak, karna mengingat Khalid belum makan dari pagi. Ayahnya meminta agar dia saja membawa motor, agar cepat sampai, kasihan Khalid belum makan, katanya.
Baru beberapa kilometer motor berjalan, ayahnya mengarahkan motor ke arah rambu2 yang berada di pinggir kiri jalan. Saya yang tersadar sebelum kejadian, berteriak dan memeluk erat Khalid. Kecepatan motor agak tinggi ketika itu.
"braaaakkk" kami pun terpisah bertiga. "anaknyaaaa" teriak orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
Khalid yang langsung ditolong, sedangkan saya masih berusaha berdiri. "Khaliiiid, ayaaaah" spontan saya berterik kencang.
"Ummaaah...ummaah..ummaah" teriak Khalid yang membuat hati saya hancur berkeping. Darah berlumuran di kepala bagian kanannya. "uda kuat ya" saya mencoba menenangkan suasana. "ummaah" suaranya yang semakin tak berdaya. "uda anak yang kuat" saya coba lagi menenangkannya. "iyaa mah" dia pun berhenti berteriak.
Saya lihat ayahnya yang juga berjalan pincang dan berdarah banyak di kaki sebelah kirinya. Orang yang membantu kamipun melarikan kami ke Rumah Sakit terdekat. Dan kamipum di bantu.
Alhamdulillaah, sedikit lega. Setelah luka kami dibersihkan dan dikasih pertolongan pertama, kamipun beristirahat. Dan petugas IGD meminta kami untuk menunggu observasi Khalid selama satu jam. Di saat itu lah saya lihat air mata ayah Khalid menetes, dan meminta maaf ke Khalid. Saya yang berusaha kuat, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Setelah satu jam, alhamdulillah Khalid aman. Jadi kami menunggu di jemput oleh keluarga.
Dari kejadian ini, betapa sakitnya kami melihat anak kesakitan. Betapa sedihnya kami melihat anak sedih.
"Khalid, banyak yang ayah dan ummah jadikan pelajaran tentang hari ini. Sudah pasti kamu akan selalu kami jaga"
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar